Laman

Senin, 20 Februari 2017

Perempuan dan tidur


Perempuan itu meremas tanganku usai memberiku tidur. Matanya nyalang seperti protes klakson Jakarta menjelang magrib: cerewet tanpa penjelasan. Menghampiri sekali lagi dadanya yang bantal. Kupeluk tubuhnya sampai ia berkata, ”apa kau ingin tidur dengan mata terbuka?”

Selepas mandi, tubuh perempuan itu mirip bokong pizza: licin, haram, panas, memabukkan dan tiada. Aku pernah ke sana untuk mabuk dan minum-minum sampai larut. Sampai perempuan kembali memberi tidur yang gemas.  
Dia kerap membuatku menyala di pukul tiga pagi. Saat aku melancong             ke tengkuknya yang getas. Ada api menjilat mengimbangi lidahku sampai pertarungan diakhiri sebotol minuman bersoda.
Begitu manis cintanya hingga berhari-hari tak kembali?

Tapi aku bersabar menunggunya pulang. Saat ia mengentuk pintu kamar nanti
aku akan melompat ke jantungnya. Menyaksikan urat sepi berdegub pelan-pelan; memompa rindu – waktu – yang digugurkan tualang.
Di jantung perempuan, aku melihat cinta diiris melintang seperti makanan cepat saji yang ia pesan satu jam lalu.

Aku kerap menyaksikan ia bersama kata, paragraf yang membelah-belah
rasa sakit. ”Kita tak perlu sendirian, malam ini,” ujarku.
Tapi langkahnya ke kamar mandi melenyapkan tubuh dan ingatan.
Kita sama-sama saling melupakan saat aku dibakar kesibukan kantor-kantor aborsi dan ia dilenyapkan tidur siang.

Kepergian perempuan adalah kesetiaannya menyalakan lampu kamar, menjahit, dan memberiku tidur seperti biasa. Ia juga mengangkat jemuran ketika hari hujan. Mengepel genangan air dari genting yang bocor. Tapi, perempuan itu tidak lagi menyapaku. Hanya sorot matanya sesekali menyisirku sembari mengolesi minyak zaitun.

Aku diam dalam pangkuannya. Aku menyala diantara cintanya yang tak ada.
Di pahanya yang bantal, tersimpan arsip tidur. Di tengkuknya yang gemas cintaku tumbuh. Di tubuhnya yang perempuan, aku tidur lagi sebagai kekasih yang tak pernah ada; yang tak pernah ia ingat sebagai cerita.



Jakarta, 2016

 gambare dalbo

Minggu, 05 Februari 2017

Cabai Mahal dan Mencret Massal

Curhat dan Analisa Peramal Togel (yang Gagal)

Sekarang harga cabai mahal. Kalau harga mas kawin sudah melangit sejak dulu. Setelah ini apa lagi?
Saya tidak ingin menyalahkan Jokowi soal cabai. Saya khawatir para pendukungnya marah. Pakewuh kalau nanti dibilang haters. Dianggap simpatisan Prabowo, meski Gusti Allah tahu saya ndak nyoblos pilpres kemarin. Saya takut juga diciduk dan dibilang makar. Karena, pengertian ”makar” itu makin kabur saja akhir-akhir ini. Terlebih lagi pemerintah sekarang ”hangat-hangat tahi ayam”, terkadang mbodo, terkadang melas, terkadang galaknya setengah modyar. Tentu saja tidak sulit ”menertibkan” kelas coro seperti saya ini, jadi saya takut. 
Soal cabai, saya hanya ingin ngedumel sendiri. Soal siapa yang bersalah, saya tak mau ambil pusing. Kalau ada pihak-pihak yang membiarkan harga cabai naik, ya, monggo saja. Jangan nanggung-nanggung dan kalau bisa sekalian menaikkan harga rokok, kopi saset dan kalau perlu menarik bayar pada oksigen yang rakyat hirup. Keinginan saya ngedumel itu karena saya mafhum  kalau ”kata-kata” itu sudah tak punya power untuk membuat bising telinga-telinga buntu. Apalagi para spekulan cabai ndak mungkin baca blog ini.
”Kalau kau pesimis dengan kata, untuk apa kau menulis?”
Terus-terang saya serba pakewuh dengan banyak pihak apabila saya hanya jadi penonton yang gemas sendiri. Saya sungkan dengan adek mahasiswa yang masih berpikir bila saya adalah mantan anak pers kampus. ”Anak pers kok tidak kritis!” Padahal saya berhak tidak peduli dengan anggapan-anggapan itu. Bukankah pers mahasiswa itu suci dan tidak bicara soal remeh-remeh urusan dapur; urusan yang nyelempit sudut genangan busuk pasar sayur. Mereka akan turun dengan sendirinya kalau yang dibahas itu sangat prinsipil, seperti: filsafat, pertentangan ideologi, atau teori nganu... nganu...
Saya ndak enak dengan tetangga kos yang kebetulan ngopi di warkop dan tanya pada saya, ”itu harga cabai mahal, kagak lu tulis? Tega amat pemerintah sama kite-kite. Lu tulis, dong. Elo kan orang tipi?” Kalau sudah seperti itu, saya harus bagaimana? Inilah yang berat buat saya. Meski mereka tidak paham dengan pekerjaan saya, tetapi apa, ya, saya terus-terusan nyengir kuda menaggapi kata-kata mereka. Kalau pun saya boleh sedikit menggawat-gawatkan, tentu saja segala yang sampai pada kita adalah ”ayat”, dimana ia datang bukan tanpa maksud. Ini adalah semiotika tuhan yang mesti saya terjemahkan walaupun sering gagal. Ya, saya ini gampang dibikin sungkan, tetapi untuk potongan saya sekarang, saya ini bisa apa? Kalau pun terpaksa jadi tulisan entah apapun bentuknya, tentu saja ini sekedar gugur kewajiban.
Kembali lagi soal standar harga mas kawin, eh, maksud saya harga cabai yang mahal. Saya pikir, kejadian ini bukan tanpa sebab atau berdiri sendiri. Kalau saya boleh lanjut untuk menggawat-gawatkan, tentu akan banyak pihak yang terseret. Jangankan menteri perdagangan, Jokowi, demit alas, atau bahkan Trump ang baru terpilih juga bisa kena. Bahkan Obama yang sedang menikmati masa pensiun sambil main karambol di pulau pribadi salah seorang pendukungnya pun juga bisa diseret-seret untuk dipersalahkan dan dikemplang. Termasuk saya.  
Tapi, saya tak mau terus menggawat-gawatkan. Saya takut dengan omongan dan caci maki pengguna Facebook Twitter dan pengguna medsos yang lain. Mereka teramat sadis kalau sedang kumat nyinyirnya. Saya bisa dibuat terkenal oleh mereka dengan dipajang-pajang, dibuatkan meme oleh para bodrek-bodrek zaman. Saya takut! Mereka tentu lebih gampang mencari saya ketimbang mencari siapa sudrun keparat yang bikin cabai mahal. Pikiran saya lebih mudah ketebak ketimbang rencana membuat cabai langka dan akhirnya punya dalih impor.
Orang macam saya ini sudah waktunya realistis dan tidak lagi perlu mendidih memikirkan harga cabai. Kalau ndak terima cabai mahal, ya, ndak usah makan pakai sambel, meski saya sangat doyan masakan yang pedas. Marah-marah di Pasar Jembatan Lima sambil orasi mengutuk harga cabai yang mahal juga lebih gawat dan dikira stres. Wajah saya bisa diburu-buru bogem mentah tukang sayur. Karena nantinya harga cabai tak akan turun dan saya juga tidak akan dapat gratisan cabe barang sebiji.
Kalau harga cabai tak diizinkan naik oleh Gusti Allah, tentu sesengkuni apapun spekulan, pemain, pemerintah, tidak akan mampu melonjakkan harga. Kalau pun sekarang harga cabai mahal, yang perlu dilakukan adalah melihat hal ini sebagai cermin. Mungkin saja ini sekedar uji kesabaran rakyat. Ada juga kemungkinan bila Allah sedang melatih kedigdayaan kita mengubah beban hidup menjadi bahan tertawaan, atau mungkin ini adalah jalan menuju kemurahan rizki-Nya. Atau perkiraan yang paling sudrun, kenaikan harga cabai ini akibat bibir kita terlalu pedas pada gejala-gejala; terlalu sumbu pendek dengan kejadian; dan terlalu gemampang menyalah-nyalahkan. Dan harap dicatat: ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri, bukan untuk pembaca yang budiman.
Saya ini bukan ekonom pilih tanding yang bakal menganalisa meroketnya harga cabai dengan ekonomi makro-mikro sebagai dasar. Saya tak lebih dari pendongeng yang jurus utamanya adalah cocoklogi yang menganggap kenaikan harga cabai adalah bentuk sayang Allah pada hambanya. Apa jadinya kalau kita kebanyakan makan cabai di tengah dagelan politik seperti sekarang? Tanpa cabai pun, hati dan bibir kita akan pedas dengan sendirinya. Kalau ditambah-tambah dengan sering makan cabai, Indonesia akan mengalami kondisi mencret massal.
Mungkin kondisi mencret massal itu adalah kepungan hoax di kehidupan kita. Semburat informasi yang panas dan tidak jelas bentuknya seperti halnya mencret kita semua. Kalau dulu, situasi mencret itu hanya ada di media massa, tetapi sekarang semua orang juga bisa mencret. Puncratan hoax yang ada dari masing-masing orang berbeda-beda kadarnya, bergantung seberapa banyak mulut dan batinnya makan sesuatu yang ”pedas”. Yang lebih parah adalah, puncratan-puncratan hoax tersebut ditelan mentah-mentah, diyakini dan dijadikan bahan berdebat dan ribut dengan orang lain. Kalau wong-wong menyebut dengan istilah post-truth. Tentu makin pedas sekali hoax itu di kepala dan di hati kita.
Sebelum anda semua semakin emosi dengan analisa (ngawur) saya, maka sebaiknya tidak perlu diambil hati. Anggap saja ini hoax jenis curhat yang berangkat dari keputusasaan dan rasa pakewuh pada kanan-kiri. Lha kalau anda semua emosi, tentu bukan saya yang salah. Saya hanya aktifis pemerhati togel dan peramal angka buntutan yang gagal. Kalau saya boleh GR dan merasa ada yang bakal panas dengan kata-kata saya, maka maaf saja. Saya hanya satu diantara kerumunan massa yang sedang ikut mengalami mencret massal. Bakul lombok sedunia, Al Fatihah.
Ya, sudah kalau begitu. Saya ke kamar mandi dulu.


Citra D. Versti Trisna
JKT 48, 5 Februari 2017 

Jumat, 03 Februari 2017

Suwung Kopi

Kau adalah suatu ketika yang kusembunyikan. Suatu putaran masa ketika debar jantung tergesa-gesa dan terus merapal mantra: memanggil malam. Mungkin kau lupa, jiwa kita pernah berlesatan di hotel murah tempat Camus menulis cerita porno ”Pemberontak” dan Marx menghitung ulang nilai lebih.

Ah, mungkin kau lupa cara menyembunyikanku di sebalik kutangmu ketika orang tuamu memastikan apakah kau telah pulas atau sedang mengingat-ingat percumbuan kita diantara deret baju di Thamrin.

Selalu tak lupa: cara kita saling merajah nama kita diantara gemetar batu-batu. Diantara tanggal tua sekelam wajah orang tuamu yang membayangkan kita berjalan beriringan di busuknya rumah-rumah kardus di Roxy. Semua seperti tergetar, sayang, sebelum beberapa detik aku cium keningmu dan mengusap leleran peluh. ”Sebentar lagi pagi, sayang,” ucapmu. Aku tahu, sebentar lagi dentang lonceng gereja akan membawamu pergi dan aku berdiam sendiri di warung kopi. Mengingat-ingat nama hari dan mencari tahu siapa pengarang jatuh cinta.

Kita tak pernah lupa cara menari diantara bebauan kopi pagi hari. Warung-warung murah yang kita bayangkan seperti cafe mahal bandara dengan bau kemeja (yang lama dilipat di koper) orang lalulalang.

Kau cantik malam ini. Tapi, aku hanya sendiri. Kau tiada lagi. Mungkin kita sama-sama tua dalam tualang; dalam kepergian yang aku tahu pasti, akan kembali lagi.

Sayang, kopi tinggal separuh dan rokok tinggal sebatang tapi malas turun untuk membeli itu rasanya jancuk sekali.


Kosan Lantai Dua Setia Kawan Tiga Yang Ada Sofanya, 2 Februari 2017
Dalbo

Selasa, 31 Januari 2017

Suatu Ketika di Pulau Tak Berpenghuni

Tulisan ini buat saudara Eyang Abiyoso  yang sudah tidak lagi bandel dan berjanji untuk segera serius lantas rabi. Tulisan ini juga buat guru saya yang sudah bahagia selama-lama-lama-lama-lamanya. Al Fatihah. 


suatu ketika di pulau tak berpenghuni
            -al hakim

tabik untukmu: lelaki yang melolong tengah malam
melebuhkan setiap orang dari penjara

di tanah logam kau berjalan memutar. mencari puak
untuk dilahirkan kembali di sebuah episode

“jaman telah membaptisku, jaman telah membaptisku!”
ucapmu sembari mencari mabuk; persetubuhan yang getas

saat pengusiran tiba, salam perpisahan dibacakan
mantra-mantra yang cemas meloncat ke mata seorang gadis

pergilah, kau! dengan banyak resah yang kau gendong dengan selendang warna tanah, menuju ke laut

ke pulau coklat tak berpenghuni. tempat jasadmu hangus
ditumbuhi pohon oak yang menyanyi tiap malam menetes sepi

(2014-2015)

warung kami


kami hidup di sini.
dalam cemas ampas kopi
anak-anak kami lahir
menuju lalulalang
yang menggelap
pelan-pelan

(2015)


panggilan kami

tiba-tiba saja kami jadi tua. kami tak punya kata
menunjukkan cara menangis; mengukir peta di batang trembesi
agar kau tahu jalan pulang dan menjadi kami: petani yang bahagia menyimpan marah dan mesjid di saku celana.
mengayuh sepeda ke kota, tempat banyak tuhan berkelahi menciptakan teror dan jam-jam malam. tapi kau enggan pulang membuat kami diasingkan rindu. tak ingin pulang kah kau?
dengar, sejak kemarin meja-meja menyanyi. pohon asam di pinggir sawah diam tak melambai. kursi-kursi warung tuak ngelangut, memanggil nama-nama kekasih di rantau
yang hampir terhapus seperti suratmu tahun lalu:
“aku bahagia lantaran tetap menyimpan desa di kota ini.
menyimpan surau di dalam hati.” ucapmu
tapi kami terus jadi tua, dan berhenti memanggil

(2015)

suatu ketika di pulau tak berpenghuni 2

kau bersabar dalam petak kamar penuh deret buku. mencari kebenaran dari setiap “ada” —di tusuk penghianatan yang perempuan—dan mengingkari eksistensi remaja muda: pidato.

“siapa itu bertelanjang? kurus di jendela macam orang busung lapar. kudisan, pula.”

matamu meneleng. kau memafhumi bila bayangan itu adalah sebagian dari dirimu yang kelaparan dan menagih haknya. kau menari, menggerak-gerakkan tanganmu ke depan, ke belakang, ke segala arah yang ramai suara. membiarkan tubuhmu lengket kringat bau apak. menangkap ide yang berkelindan.    
"kulit juga punya mata, kau tau itu?”

di pulau tak berpenghuni kau tak berhenti menelisik sawang di langit-langit kamar. lalu matamu nyalang, benci. “aku khidir kw dua yang diutus tuhan ke sini, di tempat penuh patung berjajar dan memperkosa kesesatanmu.”

(2015)

pada ning bunyi

untuk sekelumit ingatan

aku pusatkan pendengaranku

pada ning bunyi.


yang lebih sunyi dari sunyi

bisik-bisik paling menggigit

di batin


saat itu aku diam

menemukan wajahku

menangis sendirian



(2015)



Citra D. Vresti Trisna

tau dimuat nang jawapos

Madura dan ... (sembarang isien dewe)

Madura adalah ”ayat”. Madura adalah ”Gatholoco” dalam bentuk yang lain. Ia mempertanyakan banyak hal di luar-dalam kehidupan kita.
Mungkin di luar sana, di sekitaran kita (yang tinggal di kota), Madura  nampak sebagai sesuatu yang ”menggelikan”. Olok-olok yang terkadang menyakitkan. Madura jarang absen dari anekdot-anekdot getir serta penggambaran akan ”kampung terasing” yang seakan-akan beribu-ribu kilometer jauhnya dari sesuatu yang mambu modern. Madura kerap dihadirkan di sepetak nilai dan standar-standar angkuh yang sebelumnya telah kita monopoli kebenarannya.
Meski demikian, Madura nampak tidak gemetar dengan itu semua. Masyarakat Madura yang belum kehilangan jati dirinya — di plosok-plosok desa, di gunung dan pesisir — tetap berjalan sebagaimana yang mereka yakini. Mereka menjalani hidup dengan memegang teguh ”harga diri” — sesuatu yang telah lama kita tinggalkan — dan tak rikuh dengan berbagai anggapan. Mungkin ini bagi orang tua yang dulu pernah saya kenal sembarangan di warung, di kampus, di rumah teman. Tapi bagi generasi mudanya... ah, saya sungkan sendiri jadinya. 
Tentu ingatan tentang restu pendirian Nahdatul Ulama tidak lepas dari kiyainya. Sehingga, bagi para dedemit konsultan politik para cagub dan capres harus memperhitungkan itu dan memasukkan Madura ke dalam peta strategi tersendiri. Berbagai keajaiban mengenai realitas pemilihan calon kerap dikejutkan oleh keajaiban-keajaiban di luar nalar dan logika politik. Terlepas baik-buruk hal ini, tentu rasionalitas mengenai teori marketing politik dijungkir balik di tanah gersang ini.
Ada apa dengan Madura? Meski saya sudah menghabiskan enam tahun masa studi di pulau garam dan satu tahun duduk di meja redaksi surat kabar lokal di Madura tetap tak membuat saya mengerti dan bertemu dengan “Madura” yang sebenarnya. Kalau pun ada kasus-kasus yang terjadi, tentu itu hanya di kulit luar dan tak sampai pada substansi.
Masyarakat Madura menghantam segala kemapanan dengan pola pikir masyarakatnya yang ”lugu” tapi lugas; yang terkesan ”memalukan” namun agung. Di dalam, Madura terbukti menjungkir balik toko rasionalitas dari Universitas — sebut saja Trunojoyo (bukan nama sebenarnya) — hingga bertekuk lutut. Kalau ada yang perlu bukti, pengujian, dan segala metode taik kucing agar akademisi percaya!? Mudah saja: suruh saja, kampus mengelola parkir tanpa sedikit pun melibatkan ”preman”.
Bagi orang yang punya kejelian mripat, tentu dapat melihat dengan jelas bentangan spanduk bertuliskan: ”letakkan rasionalitas anda di dalam kulkas dan perbanyaklah maklum!” Konon malaikat Jibril yang memasang spanduk tersebut agar anda tidak kecele alias tertipu dengan berbagai gejala yang mencuat. Karena Madura terbukti menjungkir rasionalitas yang dianggap mapan di segi apapun, baik soal kasak-kusuk kemenangan Soekarwo, remuknya tukang mebel asal Solo pada pilpres di empat kabupaten, dan menghajar pseudointellektual hampir seluruh penghuni kampus.

Kamis, 17 November 2016

Kebijaksanaan Dalahok Sang Gubernur Dudakarta

Dalahok (Gubernur Dudakarta)
Nama saya Dalahok! Profesi saya adalah Gubernur Dudakarta. Di kota ini saya memimpin para duda kapiran yang kabur dari negara tetangga karena bangkrut. Meski saya seorang gubernur, saya tetap kacung setia dan martir para bos geng pabrik plastik. Saya adik ke 430 dari Kak Dalbo. Mungkin Kak Dalbo sendiri tidak terlalu mengenal saya karena adik Kak Dalbo bukan hanya saya. Kak Dalbo mengudang saya untuk ngopi karena saya sedang bermasalah dengan guru saya, yang juga warga kota saya. Guru saya ini Ketua Kelompok Gatholocoli yang kerjanya adalah menguji kesabaran para muridnya, termasuk saya. 
Awalnya saya emoh memilih guru yang kerjanya hanya memprotes kebijakan yang saya buat. Namun, karena Pakde Dalbo atau Kak Dalbo menginstruksikan saya menerapkan ilmu belajar langsung pada sesuatu yang kita benci, alhasil bergurulah saya dengan Kelompok Gatholocoli. Ternyata berguru pada orang yang kita benci adalah sebaik-baik kebijaksanaan. 
Saya lahir di Mojoagun*. Sebuah daerah yang memiliki budaya lambe turah, nganggur, dan jahiliah. Mulut saya ini ndak enak kalau tidak ngeledek. Sejak kecil saya berlatih kungfu. Tapi seiring waktu, saya mengembangkan jurus kungfu paling sakti dan saya namai lambekungfu, atau seni bela diri kungfu yang mengandalkan bibir untuk memukul. Atau dalam bahasa inggris biasa disebut: cangkemanYou know cangkeman?  
Saya punya keunikan tersendiri yang jadi bawaan sejak lahir. Keunikan ini kerap mengantarkan saya pada petaka-petaka tidak penting tapi fatal. Keunikan tersebut adalah ketika badan saya tidak bisa diam dan akan terasa pegal-pegal kalau tidak ngisengin orang. Siapa saja bisa jadi korban keisengan saya kecuali Kakak Dalbo dan pimpinan Geng Pabrik Plastik Yang Doyan Impor Barang Gak Penting Ke Seluruh Dunia Ya Ya Ya (GPPYDIBGPKSD3Y). Selain dua orang itu, saya tidak takut menjahili siapapun. Bahkan guru saya pun akan saya jahili kalau saya sedang suntuk. 
Salah satu keisengan saya yang populer adalah menukar rumah warga dengan rumah burung dara. Membersihkan Kota Dudakarta dari para mbambung pengotor jalan. Memenuhi kota dengan manusia impor, dan banyak lagi. Kalau orang menyebut Soekarno sebagai bapak proklamasi, saya terkenal sebagai bapak reklamasi.
Tapi, di sisi lain, Ketua Kelompok Gatholocoli ini juga setali tiga uang dengan saya. Guru saya dan kelompoknya adalah garda terdepan pendemo segala kebijakan yang saya buat. Di mata guru saya, segala hal yang saya lakukan itu salah. Bahkan, mungkin menurut dia, saya lahir ke dunia pun juga salah. Tapi, di sebalik itu sebenarnya saya tahu persis kedalaman guru saya. Ia sangat menyayangi saya dan berusaha membuat saya tahu diri. Karena cara guru mendidik muridnya itu macam-macam: ada yang membimbing dengan menjadi sahabat, ada juga yang musuh kita. Dan adanya guru saya ini membuat saya tidak perlu repot-repot membeli kaca benggala di Glodok hanya untuk melihat siapa sejatinya saya. 
Meski saya sangat takzim dengan guru saya, tapi sebagai manusia yang normal, saya memiliki kadar kejengkelan tersendiri dengan guru saya. Meski kejengkelan dalam diri saya itu sifatnya fluktuatif, tapi yang jelas jengkel tetap saja ada meski kadarnya bisa berbeda-beda setiap saat. Terkadang, rasa jengkel yang secara otomatis tersimpan dalam diri saya ini kerap meledak sewaktu-waktu. Sehingga ketika saya ngomong baik-baik pun terkadang masih kerap keceplosan kata-kata yang menyinggung perasaan guru saya.
*
Bukan guru yang bijak namanya kalau dia tidak bisa memafkan saya. Biasanya rasa maafnya muncul tatkala dia sudah bisa memahami kekhilafan saya dan mengkalkulasi dengan cermat alasan dia marah; mengkalkulasi saldo kesalahan saya padanya. Guru saya ini tipikal seorang yang dianugrahi alam semesta kejelian mripat. Kejeliannya ini ia manfaatkan untuk mengkalkulasi—meski tidak 100 persen benar—setepat-tepatnya kesalahan saya. Setelah ia mampu mengkalkulasi kesalahan saya, biasanya ia akan menghukum saya sesuai dengan kadar kesalahan saya. Yang bikin saya salut padanya adalah kemampuannya dalam mengukur dan menentukan kesalahan mana yang patut dihukum dan mana yang tidak. Dalam hal ini, dia jagonya. 
Untuk orang sekaliber guru saya ini, tentu memahami bila kata-kata saya yang menyinggung hatinya adalah akumulasi dari kejengkelan saya padanya yang suka menyuruh seenaknya, terlalu menuntut, dan menghina hasil perenungan saya. Yang hebat dari guru saya adalah, ia tidak pernah menghukum saya untuk kesalahan yang mungkin bisa dibilang manusiawi ini. Sedangkan hukuman yang sedang saya terima darinya adalah karena akumulasi dari kesalahan saya yang lain, seperti: membuang tikar tempat dia tidur dan menggantinya kertas koran. Atau terkadang ketika kamar kos yang dia sewa, saya sewakan lagi ke teman-teman saya dari kelompok GPPYDIBGPKSD3Y yang kebetulan butuh tempat mesum darurat dengan harga murah hingga guru saya sendiri terkadang sampai duduk jongkok menunggu kawan saya selesai main.
Jadi, kalau pada suatu hari dia menghukum saya, tentu itu bukan berasal dari kata-kata saya, tapi akumulasi dari kesalahan-kesalahan saya selama ini padanya. Mestinya, dia tidak perlu menunggu saya berkata sesuatu yang menyinggung perasaannya untuk dapat menghukum. Bagi saya, ia berhak menghukumku karena: dia guruku; saya muridnya; saya rela dihukum; dia mau menghukum. Dan jadilah saya tersangka. Dengan kata lain, guru saya dan para pengikutnya yang lain itu tidak kehilangan fokus dan marah hanya perkara kata-kata saya, melainkan menghukum karena kesalahan-kesalahan yang lebih fatal yang menyangkut kemanusiaan, perut orang banyak serta tempat tinggalnya.
Ya, bila ada dua pihak yang terlibat persoalan pastilah masing-masing pihak punya andil salah. Tinggal masing-masing pihak ini mau memahami dan memaafkan atau tidak. Meski demikian, saya sadar bila maaf hanya akan membuat saya bersih di mata tuhan, tapi tidak di mata hukum. Salah dan dihukum itu ”benar”. Kalau salah tidak dihukum itu dobel salah namanya.  
Bagi saya, status tersangka yang baru saja ditetapkan Barbar-Eskrim adalah anugrah luar biasa. Status ini membuat saya sadar bila kata-kata sembrono yang nyeplos adalah sebuah momentum yang datang dari semesta. Seperti ”tangan Tuhan” yang membuat banyak orang kembali ke ”biliknya” untuk bersunyi-sunyi. Mengukur diri. Mengeram. Dan menyesali perpecahan yang sempat terjadi. Dan yang penting mengembalikan persatuan kelompok-kelompok.
Saya senang dialektika cinta antara saya dan guru saya ini hanya terjadi di Dudakarta. Apa jadinya kalau sampai terjadi di Jakarta (baca: tempat genderuwo manak)? Saya ogah tinggal di sana. Semua orang bersikukuh dengan benarnya masing-masing. 

Citra D. Vresti Trisna

Dudakarta, Kamis Legi, 17 November 2016

Senin, 14 November 2016

Gembelengan Kolektif

Gundul-gundul pacul, gembelengan. Nyunggi-nyungi wakul, gembelengan. Wakul glimpang segane dadi sak latar (--seorang bocah—kepalanya gundul sembrono. Membawa bakul nasi di atas kepala dan sembrono. Bakul nasinya jatuh nasinya berserakan ke mana-mana).
*
Teman sekamar kos saya kelimpungan. Mukanya merah padam menahan amarah mendapati saudara jauhnya (yang juga tinggal sekamar dengan kami) resign kerja. ”Teman saya yang juga baru juga resign, saya ndak mau sendirian. Kerja di sana juga ndak enak,” ujar si bocah. Teman saya marah karena merasa disepelehkan; tidak dihargai perjuangannya mencarikan kerja kemana-mana. Teman saya merasa rugi korban waktu sampai harus izin cuti demi mengantar saudaranya ini cari kerja. Meski (mungkin) teman saya juga sadar bila upayanya menolong saudaranya itu bukan dalam rangka dagang yang harus terlibat untung-rugi.  
Teman sekamar saya sempat tidak mau bertegur sapa dengan saudara jauhnya. Tapi, setelah mengungkapkan kekesalan dalam hatinya, teman saya melunak. Padahal sebelumnya saudara jauh teman saya ini mau diusir, lantaran sudah beberapa kali dicarikan kerja tapi tetap saja keluar karena tak nyaman di tempat kerjanya yang baru. Saya sendiri hanya diam, tak berani ikut campur. Hanya kalau kebetulan kami hanya berdua di kamar, saya nasihati dia dan memberinya semangat dan mengingatkan agar tidak terlalu menuruti enak dan tidak enak kalau hidup di Jakarta. Terlebih jika hanya lulusan SMA tanpa ada daya tawar.  
Bagi saya, alasan saudara teman saya itu gembelengan. Saya sempat heran juga: kok, ya, makin modern hidup itu makin banyak anak-anak muda pemalas. Dulu, hiburan tak sebanyak sekarang, tapi kenapa banyak orang jadi pemalas. Harusnya, karena hiburan makin banyak, mereka semakin giat bekerja karena hiburan juga tidak ada yang gratis. Saya berani bilang seperti ini lantaran, saudara teman saya ini juga senang ditraktir nggaya, senang-senang di tempat hiburan.
Awalnya saya agak gregeten juga dengan bocah ini. Padahal di Jakarta, sebagian besar orang berlomba-lomba membeli hidup. Kerja siang-malam, sikut kanan-kiri, cari peluang dan jilat sana-sini agar bisa membeli hidup. Kepedulian satu sama lain itu seperti suara merdu yang terdengar menjauh. Tapi, setelah saya pikir lagi, bocah ini adalah tamparan buat saya. Bocah ini mengingatkan bila mripat saya masih rabun untuk melihat apa yang ada dibalik semangat kerja dan ketidakpedulian genderuwo-genderuwo Jakarta.
Bocah ini memang gembelengan dalam bekerja. Gembelengan sebagai pria dewasa yang sudah semestinya bertanggungjawab pada dirinya, orang tuanya dan adiknya. Kemalasan bocah ini juga dipicu oleh kemalasan atasannya yang menganggap dengan adanya bocah ini untuk bermalas-malasan. Meski tugasnya adalah membimbing bocah ini kerja karena masih baru, tapi tidak dilakukan dan justru seenaknya cari keuntungan lain di luar. Tapi, di balik itu, atasan si bocah ini juga didorong oleh big bosnya lagi yang juga malas memperhatikan kesejahteraan karyawan; malas untuk sama-sama bekerja keras untuk memajukan perusahaan. Padahal, si bos geng juga pengen untung besar. Alhasil, untung besar itu diwujudkan dengan memanipulasi hak karyawan. Biar bawahan kerja setengah mati asal bos geng untung besar itu bukan soal.
Sementara pemerintah, yang seharusnya mengurus kesejahteraan juga gembelengan. Namanya saja kabinet kerja, tapi kerjaannya, ya, jual negara ke sana-sini. Tidak ada kemandirian membangun sendiri negara dengan segala sumberdaya dan tenaga yang ada. Kemalasan yang tersamarkan dengan kerja keras itu akhirnya diwujudkan dengan mengundang investasi asing masuk. Investasi jadi satu-satunya solusi paling masuk akal. Akibatnya, demi menjaga agar tamu yang diundang datang mengeruk kekayaan Indonesia ini betah, maka pemerintah harus buat sistem yang baik bagi mereka. Semua kekumuhan harus direlokasi (baca: GUSUR) demi kenyamanan para tamu. Setelah lahan-lahan digurur, dibangunlah tempat yang nyaman dan mahal untuk para tamu.
Pemerintah juga dituntut melancarkan pekerjaan para tamunya dengan membangun infrastruktur di sana-sini agar mereka bisa bekerja dengan enak. Agar tamunya betah, matane pemerintah harus sedikit picek ke hak-hak buruh yang sejatinya merupakan warga negara. Kalau buruh minta upah terlalu tinggi, bisa bikin tamunya tidak betah. Kalau buruh banyak menuntut hak, produktivitas rendah dan itu tidak baik bagi tamu. Karena memang sejak dulu tuan rumah itu harus memperlakukan tamunya seperti raja.
*
Subhanallah sekali kemalasan-kemalasan di kampung yang bernama Indonesia ini.
Nanti kalau si bocah ini pulang ke Kuningan, kampung orang tuanya, para tetangga akan kasak-kusuk ngerumpi. ”Eh, si anu pulang dari kota, tetap kere...” Kalau sudah sukses bawa tipi-kulkas-kredit motor: ”eh si anu pasti kerjanya gak bener di kota. Masa begitu kerja udah bisa beli macam-macam. Kerja apaan memangnya bisa kaya gitu?”
Malang benar nasibmu, bocah. Pulang gagal dimaki; pulang berhasil orang pada dengki. Kadang saya juga rada gimana gitu dengan hal-hal semacam ini. Kalau tidak bisa membantu, ya, mbok ndak usah memaki, mengkuliahi, menyalah-nyalahkan. Saya pun demikian. Tidak seberapa membantu bocah ini juga akhirnya tergelincir untuk sempat menyalahkan si bocah tanpa mau berpikir lebih jauh, melihat lebih jauh, dan berempati lebih dalam. Maafkan saya, ya, bocah. Kalau nanti kamu dapat pekerjaan lagi, jangan gembelengan. Memang tidak enak rasanya jadi gedibal, bolodupak-an di kampung sendiri.
Kalau kau dengan segala gembelengan yang ada dalam dirimu adalah cerminan dari wajah kami. Maka seharusnya kami bisa maafkanmu dengan menerapkan ilmu orang tua: merasa seakan-akan menjadi orang tuamu yang bisa menerima kenakalanmu, kesalahanmu. Marah bila kau disakiti dan ikut merasakan segala luka yang kau sembunyikan tanpa sempat kami pahami. Tapi, berapa biji orang yang mau seperti itu?
Ya, Gusti. Maafkan sikap gembelengan kami.

Citra D. Vresti Trisna

Kosan Lantai Dua Yang Ada Sofanya, Senin Pon, 14 November 2016


Selamat tidur, jangan gembelengan lagi, ya.