Laman

Kamis, 02 November 2017

Yasinan untuk Alexis

#DUDAKARTAdanJAKARTA14
Citra D. Vresti Trisna


Sejak 27 Oktober 2017, masyarakat Dudakarta menyambut langkah Pemprov DKI untuk tidak memperpanjang izin usaha hotel dan gria pijat Alexis dengan yasinan dua hari dua malam. Apa yang mereka lakukan bukan karena pro atau kontra pada penutupan Alexis. Mereka hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Untung saja warga Dudakarta ini sangat tidak make news sehingga tidak seorang wartawan pun tergerak meminta pendapat mereka atas bubarnya panti pijat yang konon katanya menjadi tempat nganu-nganu masyarakat golongan menengah ke atas ini. Memang Mbah Ripul dan Mas Kumis — santri Mbah Ripul — pernah dimintai pendapat soal Alexis sewaktu andok bakso di dekat Mall Roxy.
”Pendapat anda soal penutupan Alexis?” Tanya wartawan yang kebetulan melintas dan ingin meminta pendapat warga.
”E... ee... ee... nganu... kepriwe ya... nganu...

Sadar telah salah mewawancarai orang, wartawan itu meninggalkan dua mahluk aneh Dudakarta. Seandainya warga Dudakarta dikumpulkan dan diwawancarai secara serius pun, mereka tidak dapat menjawab dengan baik. Kebisuan warga Dudakarta pada penutupan Alexis bukan tanpa sebab. Pertama, sebagai warga ilegal yang menumpang tinggal di Jakarta, mereka merasa tidak pantas dimintai pendapat dan mereka juga bukan pelanggan Alexis yang taat. Mereka tak ingin pendapatnya dicatat, dipublikasikan secara luas hingga harus melukai pekerja Alexis. Karena dalam kacamata warga Dudakarta, penghuni Alexis bukan hanya para punggawa PT Grand Ancol Hotel, tapi juga OB, tukang jamu kuat, tukang parkir dan ribuan orang yang hidup dari perputaran bisnis Alexis.
Mereka juga paham, drama penutupan Alexis adalah mekanisme cinta antara Pemprov DKI dan juga bos gank Alexis. Agar semakin akur, kedua pihak memang harus saling repot bikin klarifikasi di media mengenai rasa keberatan keduanya. Nantinya kedua pihak bisa saling merajuk, misalnya saling menyalahkan dan mempertanyakan.
Yang membuat warga Dudakarta ngelembur yasinan adalah adanya lintasan bayangan dialog seperti ini:
”Mengapa tidak sayang kepadaku sebelum aku jadi bos di Jakarta? Aku benci kamu!”
”Lha gimana, wong saya urunan bukan buatmu. Aku harus bagaimana ini, cintaku? Maafkan aku!”
”Ya sudah, kita tutup lembaran kelam ini. Bukalah lembaran baru, gantilah bajumu, namamu. Itu hanya mengingatkanku pada kisah lalu dan mulai sekarang belajarlah mencintaiku.” Dan keduanya pun berpelukan.
Lintasan pikiran warga Dudakarta bukan tanpa alasan. Drama sontoloyo memang dibutuhkan untuk sebuah pentas kota sekaliber Jakarta. Dialog dan ekspresi yang terpajang di televisi harus dibuat dramatis dengan tujuan agar penonton hanya bisa menerka dan tawur sendiri-sendiri di media sosial. Soal tawur itu prinsipil atau tidak memang bukan yang utama. Karena tugas orang pintar hari ini adalah membuat drama agar digunjingkan, diributkan lantas orang-orang itu kehilangan fokus dan kejernihan atas apa yang terjadi. Inilah ilusi optik dari drama dan media sosial hari ini: kaburnya substansi dan masyarakat jadi pemuja tragedi.
Sedangkan yang membuat warga Dudakarta menitikkan air mata di tengah yasinan adalah rasa bersalah karena sempat merasa kehilangan Alexis berarti kehilangan laboraturium belajar sabar menahan birahi. Tapi, di sisi lain, mengabaikan tangis istri-istri yang kesepian di rumah dan menunggu suami pulang sambil mengantuk. Padahal warga Dudakarta sepenuhnya paham bila kehilangan Alexis hanya satu tahap untuk mendapatkan laboraturium lain yang lebih besar, lebih rapi dan lebih menghentak-hentak birahi.
Setelah yasinan dua hari dua malam, Mbah Ripul membuka omongan, ”warga Dudakarta sekalian. Sudah dapat petunjuk dari Gusi Allah?”
Tidak ada jawaban.
Mbah Ripul meneruskan, ”acara yasinan ini akan terus dilakukan agar kita sebagai tetangga Jakarta tidak salah berpikir, menentukan sikap dan bertindak atas penutupan Alexis. Yasinan ini juga bentuk dari keterbelahan sikap dalam hidup untuk menentukan baik-buruk dan mengambil hikmah. Ada keterbelahan sikap antara prihatin lantaran Alexis ditutup tapi separuhnya bersyukur. Bagaimana saudara-saudara?”
Tidak ada jawaban.

Jakarta, Kamis Legi November 2017

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memaki, kritik, saran. Bebas ngomong.